My story

Wellcome to my blog\(>.<)/

Senin, 17 Januari 2011

Tak Hanya Sebatas Mimpi(Part13‘Matahariku’)


Tak Hanya Sebatas Mimpi(Part13‘Matahariku’)




“Fy, kita beli minum dulu yok buat mereka”Kata Via, lalu SISA pergi membeli minum.

>>> 

“Eumbh…Udah lengkap Fy?”Tanya Agni pada ify, lalu Ify menghitung botol minuman yang di bawanya.

“Udah lengkap Ag”Kata Ify

“Yaudah, yook balik”Langkah Agni terhenti.

“Ag!!Hoshos,, Gawat!! Cakka sama Obiet berantem!!”Kata Patton yang baru datang.

“?!!”Agni sangat kaget. Ia langsung berlari ke tempak Cakka dan obiet.

“Kayaknya bakalan ada masalah baru nih”gumam Ify, yang di angguki oleh Via. Mereka langsung menyusul Agni di tempat Cakka dan Obiet.

>>> 

Saat Agni sampai ke lokasi Cakka sedang bersiap untuk membogem Obiet yang udah babak belur.

“Kak Cakka!! Udah!! Lo apa apaan sih?!”Agni melerai Cakka da Obiet

“Kenapa sih lo kak?! Kenpa lo mukul Obiet?!!”Bentak Agni dengan penuh emosi.

“Asal lo tau Ag, dia! Dia udah selingkuh! Gue kemaren liat dia lagi jalan sama cewek lain! Dan tadi dia juga nelfon seorang cewek!”Kata Cakka. Agni kaget. Agni melirik Obiet, Obiet sedikit menunduk. Agni mengerti.

“Terus kenapa?! Kenpa lo marah?! Lagian lo kan belum tentu tau siapa cewek yang jalan dengan Obiet kemaren. Mungkin itu sepupu atau saudaranya, lo gak punya bukti kan kalo Obiet itu selingkuh?!”Cakka terdiam. Aggni benar. Kenapa Cakka menuduh Obiet tanpa bukti? Kenapa Cakka marah? Itu bukan masalahnya, lalu kenapa ia begitu emosi dan marah? Ada apa dengannya?

Cakka langsung pergi begitu saja. Agni pergi bersama Obiet. Yang lainnya hanya menatap mereka bingung.

‘Ada apa? Apa jangan jangan…’Batin Ify sambil pergi menyusul Cakka.

‘Lha? Kemana dia?’Batin seseorang mengikuti Cakka dan Ify.

>>> 

Agni-Obiet

@UKS

“Lo ga papa kan biet?”Kata Agni sambil mengambil betadin yang ada di lemari UKS.

“Iya, Cuma dikit doing kok”Obiet menunjuk pipinya yang memar karna kena bogem menah dari Cakka.

“Dasar lo…”

“Sori ya Ag, gue…”

“Ga papa kok, lagian gue yang harusnya terima kasih ke lo…”Obiet mengangkat sebelah alisnya.

“Kenapa?”Agni tersenyum.

>>> 

Cakka meminum air di botol minumannya(Kapan bawanya?*kapan aja boleee) sambil duduk di belaka ng sekolah, yang beberapa minggu ini menjadi tempat favoritnya untuk menjernihkan pikiran. Cakka menutup matanya sejenak dan membiarkan pikirannya tenang sejenak

Meski dirmu bukan milikku
Namun hatiku tetap utukmu
Berjuta pilihan di sisiku
Takkan bisa menggantikanmu

Sepenggal lagu itu terdengar di teling Cakka. Cakka menoleh ke belakang, terlihat Ify yang sedang berdiri dengan senyumannya di sana.

“Ngapain lo disitu Fy?”

“Itu tempat gue…”Kata IIfy sambil menunjuk tempat Cakka duduk. Seulas senyum terukir di wajah Cakka. Lalu Ify duduk di sebelahnya.

“Lo kenapa Fy?”

“Gak, gue lagi ngeliat orang yang lgi dilema cinta”

“Siapa?”

“Orang yang lagi ngomong sama gue”

“gue donk?”Tanya Cakka sambil menunjuk dirinya sendiri

“Emang”Kata Ify yang semakin membingungkan Cakka. Dia? Dilema cinta?

“Yaudah deh, dari pada lo engong mending nyanyi aja yokk!!”

“Lagu apa?”

“Tuhan Tolongnya Derby Romero gimana?”

“Boleh…”


Cakk~
Ku rasa getaran cinta
di setiap tatapan matanya
andai ku coba tuk berpaling
akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini
Ify~
oh tuhan tolonglah aku
jangan lah kau biarkan diriku
jatuh cinta kepadanya
sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong…diriku
Cakk~
walaupun terasa indah
andaikan ku dapat juga dirinya
namun ku harus tetap bertahan
menjaga cinta yang tlah lebih dulu ku jalani
oh tuhan tolonglah aku
jangan lah kau biarkan diriku
jatuh cinta kepadanya
sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku…
Ify terdiam, ia kaget. Pertama kalinya Cakka seperti ini. Walaupun bernyanyi, Cakka terlihat penuh emosi. Sangat marah. Apa ini semua karna…
oh tuhan tolonglah aku
jangan lah kau biarkan diriku
jatuh cinta kepadanya
sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku
tuhan tolong diriku
Untuk sesaat mereka terdiam. Ify yang masih memikirkan nyanyian Cakka tadi. Dan Cakka yang tak bisa lagi memikirkan apa apa. Dan Ify memecahkan keheningan itu.

“Gue balik duluan ya kak”Kata Ify sambil pergi

“Iya…”Lalu tiba tiba seseorang datang menghampiri Cakka yang duduk sendiri setelh Ify pergi meninggalkannya(Pergi kekelas lho ya bkan apa”)

“Cakk?”Panggil orang itu. Cakka langsung menengok ke orang itu lalu tersenyum tipis.

“Eh elo yo…”Kata Cakka kepada Rio(Ternyata Rioayang too…#digebukinRISE#hehe)

“Lo kenapa sob?”Tanya Rio

“Ga papa kok”

“Sejak kapan seorang Cakka jadi pinter bo’ong?”Kata Rio sambil menatap lurus kedepan.

“Maksud lo?”

“Lo ga bisa ngebo’ong dari gue Cakk, gue tau lo lagi dilema”Kata Rio. Cakka mengangkat sebelah alisnya

“Lo kayak Ify aja…”Rio melebarkan matanya

“Maksudnya?”

“Lupakan…”Kata Cakka. Rio manyun.

“Gue juga bingung yo, gue kenapa ya??”

“yang tau jawaban tentang itu semua hanya diri lo sendiri…”Rio pergi(Rio sama Ify sama aja, Cuma ngomong beberapa kata langsung pergi gitu aja.. >,<)

“Kak, gue mau ngomong sama lo…”Kata seseorang. Cakka menaikan alisnya.

>>> 

“sekarang gimana coba?”Tanya Agni pada dirinya sendiri sambil berbaring di ranjang kamarnya.

‘Drtt…Drtt…’Hp Agni bergetar. Lalu Agni melihat hpnya…


From : Ify‘MyBawelBestFriend’(Kasian Ify, di semua kontak hp temennya namanya dia selalu di hina,, yang lalu dia namanya Ifybehel*part6* sekarang Ify Bawel -,-)

Ag, nanti malem lo dateng ke lapangan basket deket rumah gue ya…Jam 8… Awas lo kalo ga dateng bakalan gue gorok!! Ga usah banyak tanya, pokoknya dateng aja!!


“Isi sms Ify aneh banget sih? Ada apaan coba?”Gumam Agni sambil membaca sms aneh dari Ify.

“Jam 8? Lapangan basket? Ada apa ya??”Agni semakin penasaran,, Ada apa sebenarnya!!??

Penulis : gak tao deh…
Agni : yang nanya sama lo siapa?
Penulis : siapa aja boleee…
Agni : Oh tidak bisa begitu*gayasule*
Penulis : ya di bisa bisakan lah…
Agni : dasar penulis aneh…
Penulis : baru nyadar Ag?? :P
Agni : kaga sih, dari orork kan lo udah aneh…
Penulis : sama sama Ag…
Agni : Udah abain aja nih penulis gaje =*
Penulis : ._.*watados-,-*

>>> 

Agni menutup dan membuka matanya lagi. Dari tadi ia berusaha untuk tidur walau hanya sebentarr saja, tapi matanya terus kembali terbuka lagi(Penulis: kasih lem aja Ag-,-)

“Agrh!! Kenapa sih gue ga bisa tidur gini??”Kata Agnii sambil mengacak rambutnya. Lalu Agni melirik jam.

“Baru jam empat, sekarang gue ngapain coba??”Gumam Agni

‘Tiiin tinnn…’Bunyi klakson mobil terdengar di depan Rumah Agni, Agni melihat kea rah luar jendela kamarnya. Shilla dan Sivia tersenyum pada Agni sambil melambaikan tangan padanya. Agni langsung turun ke tempat Sivia dan Shilla(ceritanya kamar Agni itu di lantai dua).

“Tumben lo pada ke sini. Ada apa?”Tanya Agni. Sivia dan Shilla saling berpandangan lalu tersenyum, mengangguk dan kembali menatap Agni(Ngerti khan maksudnya??) yang membuat Agni semakin bingung.

“Temenin kita ke salon ya Ag, terus kita ke rumah gue”Kata Shilla

“Tap…”Sivia memotong kata kata Agni

“Mau yah Ag”Sivia memegang tangan kiri Agni

“Tapi gue ganti baju dulu deh”Agni mau pergi tapi tangan kanan Agni langsung di tarik sama Shilla.

“Ga usah lah Ag,”Mereka(ShillVia) langsung menarik Agni ke dalam mobil dan membawanya ke salon dan rumah Shilla.

(Back sound*sebenernya sih ni lagu ga ada nyambung nyambungnya sama ceritanya Cuma penulis lagi kepengen masukin lagu ini hehe…*)


Kau teduhkan jiwaku
Kau menghapus salahku

Saat diriku terjatuh
Dalam jenuh hati

Ku tak lagi sendiri
Kau tlah lengkapi aku
Tiada lagi yang ku inginkan
Hanya kau kekasihku


Cintamu seindah pagi
Menerangi gelisah hati ini.

Cintamu tlah menangkan ruang hatiku
Semuanya untukmu…

Ku tak lagi sendiri
Kau tlah lengkapi aku

Tiada lagi yang ku inginkan
Hanya kau kekasihku

Cintamu seindah pagi
Menerangi gelisah hati ini.

Cintamu tlah menangkan ruang hatiku
Semuanya untukmu…

Ku tak lagi sendiri
Kau tlah lengkapi aku

Tiada lagi yang ku inginkan
Hanya kau kekasihku

Cintamu(Cintamu) seindah pagi(seindah pagi)
Menerangi gelisah hati ini.

Cintamu tlah menangkan ruang hatiku
Semuanya untukmu…

Cintamu(Cintamu) seindah pagi(seindah pagi)
Menerangi gelisah hati ini.

Cintamu tlah menangkan ruang hatiku


Semuanya untukmu…


>>> 

@Rumah Shilla

“Eh, kalian apa apaan sih dari tadi?? Kok gue gini gini banget??”Agni ngomel ngomel soalnya tadi di salon rambutnya agak di keriting rol terus mukanya di kasi berbagai alat make up, mulai dari bedak, blussing, de el el… Terus di kasi pakai berbagai macam gaun gaun kepunyaan Shilla. Mulai dari yang pink, merah, biru(kepengen!!), ungu,dan akhirnya…putih sebuah gaun putih selutut yng dihiasi pita hitap sangan cantik di kenakan Agni. Shilla dan Sivia saling berhadapan lalu mengangguk.

“Lo cantik banget lagi ag,,”

“Dih? Ogah gue kayak gini… emang ada apaan sih??”Tanya Agni.

“Tutup dulu mata lo…”Kata Via. Agni menutup matanya, lalu Shilla mengambil kain hitam dan menutup mata Agni dengan kain itu.

“Eh, kok mata gue kalian tutup gini sih??”Tanya Agni

“Lo nurut aja deh Ag”Bisik Shilla(Wah, ShillVi ternyata kejam-,-) karna Agni udah ga bisa ngapa ngapain lagi dia nurut aja…Toh temen temennya juga gak mungkin bakalan ngapa ngapain dia…

Shilla melirik jam lalu mengacungkan jempolnya pada Via. Lalu mereka membawa Agni ke dalam mobil.

‘Sebenernya ada apa sih??’Batin Agni semakin bingung. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di suatu tempat. Shilla menurunkan Agni. Agni yang merasa kehilangan jejak teman temannya membuka penutup matanya.

‘Gelap’ Di tempat sekitar Agni sangat gelap. Tak ada sedikitpun cahaya di sekitarnya yang membuat agni menjadi sedikit takut.

“Shillaa!!! Siviaaa!! Kalian di mana??!!!”Kata Agni sedikit berteriak. Tiba tiba ia melihat sebuah lilin yang menyala. Satu satunya sumber cahaya yang ia lihat. Agni mendekat ke arah lilin kecil itu. Dan ada satu lilin lagi. Ada lagi dan lagi. Agni terus mengilkutinya hingga lilin akhir. Tapi masih belum ada tanda tanda ada Shilla dan Sivia. Agni berputar d tempatnya sekarang. Hingga sebuah petikan gitar membuatnya berbalik…


Di dalam hatimu
Tlah aku temukan
Arti kebahagian

Bersama dirimu
Aku merasa berarti

Sanggupkah dirimu
Untuk bertahan
Hingga waktu tak berjalan

Mencintaiku
Walau bintangku tak terang

Agni terdiam menatap seseorang yang sedang bernyanyi di iringi gitar klasik. Agni masih belum percaya apa yang ada di depannya.


Cintailah aku sepenuh hati
Sesungguhnya aku
Tak ingin kau pergi
Takkan mampu ku hadapi dunia ini

Betapa hidupku takkan pernah sama
Bila kau tinggalkan ku
Tetaplah disini saling memiliki
Selama-lamanya

Lagu kesukaannya itu dinyanyikan dengan sangat indah olehnya, bukan indah, tapi sangat indah

Cintailah aku sepenuh hati
Ooo... tak ingin kau pergi
Takkan mampu ku hadapi dunia ini
Tiada arti semua bila kau pergi

Genggamlah tangganku dan peluklah diriku
Saatku jatuh nanti menangis sepi


Cintailah aku sepenuh hati
Sesungguhnya aku
Tak ingin kau pergi
Takkan mampu ku hadapi dunia ini

Betapa hidupku takkan pernah sama
Bila kau tinggalkan ku
Tetaplah disini saling memiliki
Selama-lamanya


Cintailah aku sepenuh hati
Ooo... tak ingin kau pergi

Jntung Agni berdetak tidak karuan. ‘Gue kenapa jadi gini sih?’Batin Agni

Takkan mampu ku hadapi dunia ini
Tiada arti semua bila kau pergi

Genggamlah tangganku dan peluklah diriku
Saatku jatuh nanti menangis sepi


Laki lak itu meletakkan gitarnya dan tersenyum pada Agni. Ia berjalan mendekat ke Agni. Agni terpaku. Tak dapat bergerak. Tak dapat mengerti apa yang terjadi??

“Ag, gue memang orang yang bodoh karna gak menyadari perasaan gue. Gue memang bukan orang yang romantis. Gue bukan orang yang pinter ngerangkai kata kata. Mungkin hanya ini yang bisa gue bilang sama lo sekarang,, Lo bukan bulan gue…Lo bukan bintang gue…”Kata katanya terputus

“Tapi lo Matahari gue……Saat lo pergi ninggalin gue, gue terbelenggu di dalam ke gelapan karna tak ada yang bisa menyinari hari gue lagi… Ag,,”

“Apa lo mau jadi matahari gue yang selalu menyinari hari hari gue, dan akan selalu ada di samping gue?”Laki laki itu memegang tangan Agni.

“Tapii…”tiba tiba seseorang keluar di dekat mereka. Agni kaget melihatnya. Orang itu tersenyum pada Agni dan mengangguk.

“Gu…Gue mau Cakk…”Cakka menarik Agni ke dalam pelukannya dengan eratnya.

“Thax yah…Matahariku…”Kata Cakka. Agni tersenyum.

“Woi kelamaan ah lu berdua peluk pelukannya di pause dulu napa, entar aja abis kita makan jagung bakarnya!!”Kata Alvin yang tiba tiba muncul sambil membawa jangung bakar(Alvin menggangsu suasana euy,,). Cakka dan Agni melepaskan pelukannya dengan pipi merona.

“iih Kak Alvin,, ganggu amat sih lo!!”Shilla tiba tiba dateng terus njewer -,- Alvin yang mengganggu pemandangan-,- dan membawa Alvin pergi.

“Makan yok Ag,”Ajak Cakka. Agni mengangguk. Lalu Cakka menggandeng tangan Agni. Awalnya Agni melirik genggaman Cakka, tapi…Yasudahlah…

“Eh, jangan di abisin donk, gue sama Agni gimana?”

“Bakar ndiri donk!!”Jawab yang lainnya serentak.(Ngomong ngomong sejak kapan ya mereka ada di situ?? Tauk deh gelooop -,<)

“Yang ini sebentar lagi mau masak, lo mau gak Vi?”Tanya Iel pada Via.

“Boleh kak…”Jawab Via.

“Kamu mau Ag?”Tanya Cakka yang memegang dua jagung bakar. Agni mengangguk lalu menerima satu jagung baker itu.

“Shill, nih lo mau kan??”Tanya Alvin sambil memberikan jagung bakarnya

“Makasi kak”Kata Shilla sambil menerima jagung bakarnya.

“Kak Rio, gue mau juga donk jagung bakarnya…”Kata Ify

“Bakar aja ndiri”Kata Rio sambil menunggu jagung bakarnya masak.

“iih kak Rio pelit”

“Biarin :P”

“Huuuh…”Ify manyun

“Jangan ngambek donk,, nih…Mau kan??”Tanya Rio sambil memberikan jagung baker di depan Ify, tapi Ify tetap tak mau mengambilnya ‘kan gengsi’Pikir ify.

Penulis : kalo gue, ga pake gengsi gengsian langusng gue embat tuh fy,,
Ify : Lo kan rakus
Penulis : :P
Ify : ._.””

“Ayo donk……ini enak loh… baru masak”Kata Rio sambil menggoda Ify. Lalu Ify mengambilnya.

“yaudah gue ambil kelo lo maksa”Kata Ify sambil menyantapnya. Rio terkekeh melihat Ify.


>Di tempat lain<

“Ag, makasi yah”Kata Cakka sambil menatap langit

“Buat?”

“Karna kamu yang udah mau jadi matahari…Matahari yang bukan semabarang matahari…tapi kamu…Matahariku…”Kata Cakka. Muka Agni merona. Lalu Agni meletakkan kepalanya di bahu Cakka dan menikmati malam hingga munculnya sanga matahari yang akan menyinari dunia yang sama seperti Agni yang akan menyinari hari hari Cakka dan Cakka yang menjadi Matahari Agni.

***
#Dua hari kemudian…(*skip*)
@sekolah

SMA PB semakin riuh dengan berita tentang berita Cakka yang jadian sama Agni dan Agni yang memang sama sekali gak pacaran sama Obiet, semua orang terus bertanya, ‘terus apa donk arti semua kemesraan mereka dulu itu?? APPAAA???!!!!*Penulis lebeh*’Dan yang bisa Agni berikan hanya sebuh cengiran.

Berita tentang mereka semakin cepat meluas karna lincahnya(?) mulut ibu ibu begosip -,-

“Ag, lo beneran jadian sama Kak Cakka?”Tanya Gita

“emb”Jawab Agni

“Kok bisa?”Tanya Irva

“bisa aja lah”Jawab Agni

“Tapi kan, masa lo ngebuang obiet begitu aja??”Tanya Gita lagi

“Yang ngerasa di buang siapa?”Tanya seseorang dari belakang Gita dan Irva. Irva dan Gita membelakan matanya setelah mengethui siapa orang yang ada di belakangnya.

“yah…elo lah biet”Kata Irva ragu ragu

“Emang gue pacaran sama Agni?”Irva dan Gita menaruh telunjuk tangan mereka di sebelah kepala.

“Pernah.”Jawab mereka kompak

“Kapan? Kayaknya gue ga pernah bilang sama kalian kalo gue nembak Agni dan gue sama Agni pacaran”Jawab Obiet

“Iya juga sih”

“Yaudah kalo gitu”Obiet dan Agni alik ke kelas. Gita dan Irva terdiam di tempat lalu saling melirik

“Mumpung si Ketua galak udah pergi sekali kali kita bolos ke kantin yok Git”Kata Irva pada Gita.

“Ayookk!!”Irva dan Gita baru melangkah satu langkah tapi tiba tiba bgian belakang kera baju mereka di pegang seseorang.

“Mau kemana lo bedua?”Tanya seseorang yang menahan mereka.

“E…e…mau…mau ke kelas lah biet…”Kata Gita gelagapan

“arah kelas itu ke sini bukan ke sana…”Kata Obiet sambil menunjuk kedua arah yang memang berbeda.

“Ooh iya…Gu…Gue mendadak amnesia Biet, yaudah yok Git kita ke kelas”Kata Irva sambil menarik tangan Gita lalu berlari dari Si Ketua Galakk -,- alias Obiet.

>>> 

#Istirahat


“Ify!”Panggil seseorang dari belakang

“Eh, kak Alvin. Kenapa kak?”


***

Bersambung…
Nah? Alvin kenapa manggil Ify??
Ada apa yaa??
Saranin donk ada apa…^^

Kamis, 06 Januari 2011

My Blemish story (cerpen)




Pengen bikin couple lain,
Memang sih belom biasa sama couple yang satu ini…
Tapia pa salahnya mencoba?
Selamat membaca ya…

>>> 


Ketika kau harus memilih,
Dan ketika pilihan itu menjadi susah untuk dipilih..
Apa yang akan kau putuskan?

^^^

“wusshh… wusshh…” angin menderu keras membelai apapun yang ditemuinya. Mebuat gorden merah hati dikamarku melambai-lambai bak bendera dihari kemerdekaan. Hujan masih dengan beraninya membasahi bumi. Membuat semerbak bau debu yang aku suka. Kututup macbook putihku it. Kucoba melupakan apa yang sudah kubaca tadi. Yang cukup membuat otakku sekarat untuk mengingatnya. Ku hirup nafas dalam-dalam dan kukeluarkan perlahann. Berharap rasa ini turut berhembus keluar juga bersama nafas-nafasku tadi.

“hhh… “desahku pelan. Ku sandarkan tubuhku diujung tempat tidurku. Melipat kedua lututku dan memeluknya erat. Dapat kurasakan detak jantungku yang masih berdetak kencang serta aliran darahku yang rasanya juga sama derasnya dengan hujan diluar ini.
Aku menatap ke luar jendela kamarku yang cukup besar. Menerawang keluar.

Aku bangun dan mendekati jendela it. tetes hujan dengan beraninya mengembunkan dirinya dijendela kamarku. Deras. Dingin. Gelap. Itulah yang dapat aku lihat sekarang. hanya ditemani lampu hias yang terletak di pinggir tempat tidurku. Entahlah, aku tak sanggup lagi. Dengan lancangnya, dua butiran bening it menembus pertahanan mataku yang kupikir sudah cukup kuat. ‘aku lemah juga ternyata’ pikirku.

Aku menangis. Terus menangis. Sederas mungkin air mata it dapat aku keluarkan. Setidaknya dapat mengurangi rasa sakit ini. Walau tak semuanya. Aku menyandarkan diriku di jendela it. Menghitung butiran air hujan yang menempel disitu. ‘Banyak’ pikirku. Entah apa air mataku juga sebanyak it?
Ku lihat lagi inbox di ponsel hitamku. Terakhir kali 1 bulan lalu. Aku benar-benar merindukannya. Merindukannya sebagai sahabatku. Aku hanya merindukannya. Apakah it salah? Untuk kesekian kalinya kau menyalahkan aku, apakah mengharapkanmu menjadi sahabatku it juga salah?

Aku ingat. Ku ingat lekat-lekat katamu. Kau yang bilang bahwa aku ‘BEJAT’ iya kan? Aku tau mungkin kau membenciku sekarang. atau mungkin kata mungkin it kuhapus saja? Sehingga tercipta kalimat ‘kau membenci aku sekarang’ terserahlah!

Aku hanya mencitaimu. Hanya itu. Apakah itu kurang sederhana? Apakah aku juga tak diizinkan untuk mencintaimu? Lalu apa yang dapat aku lakukan? Melupakanmu? Sungguh! Itu terlalu susah untuk ku lakukan. Baiklah, mungkin aku akan menyalahkan hukum alam jika aku mencintaimu. Karena kau sudah kuberi predikat sebagai sahabat. Walaupun kelihatannya kau telah lupa bahwa kau itu ‘masih’ sahabatku. Andai kau tau aku juga tak mau mencintaimu. Semakin lancar waktu berjalan, semakin gencar pula kau menanam bom nuklir dalam hatiku yang selalu siap untuk meledak. Dan, semakin kuat juga pertahananku untuk berdiri dan selalu mencintaimu.
Suatu kamis di hari ke-21 di bulan oktober..
Aku sudah selesai dengan semua seabrek kegiatan yang cukup menyita energiku saat it.

“bisa bicara sebentar?” pinta seorang gadis yang telah berdiri bersama sahabatku Ify. Gadis itu yang menarik tanganku di belokan kelas. Memaksaku berkumpul dengan kalian.

‘aku bingung’ itulah yang dapat aku utarakan saat itu. Ada apa? Pentingkah acara enam mata ini?

“jujur sama gue, apa lo masih cinta sama dia?” tanya gadis it.

“dia?” tanyaku. Kurasa aku tau siapa yang dia maksud. Dan kurasa aku juga mulai dapat menerawang apa yang akan dia katakan. Kulirik sahabatku yang hanya menunduk it. Kenapa ia tak berani menatapku?. Pikirku heran.

“iya dia.” Ulang gadis itu lagi.

“nggak kok…” jawabku. Aku tersenyum tipis.

“gue tau semuanya. Ify sudah cerita ke gue shill, lo jangan boong..” ucap gadis itu lagi.

“emangnya kenapa?” tanyaku.

“gue e.. gu.. gue… ng.. dia..” kenapa dia tak bisa menjelaskannya kepadaku? Apa ada yang salah jika aku mencintainya? Maksudku, masih mencintainya.

“fy, apa’an sih? Serius amat?” tanyaku pada sahabatku yang sedari hanya mengunci mulutnya rapat-rapat.

“shill, maafin gue. Gue tau lo masih sayang sama dia.. maaf.”

“ya tapi kenapa fy??”

“mereka, mereka… mereka saling suka shill.” Jawab ify terbata-bata. Mendengar emapat kata tadi membuatku mematung. Seketika it rasanya urat gerakku putus. Tak dapat lagi rasanya aku bergerak. Sekalipun hanya untuk menggerakkan lidahku sendiri untuk mengatakan sesuatu. Baiklah, tak ada yang salah. Apa yang salah? Dia mencintainya? Tak salah aku pikir. Ini hanya tentang waktuku untuk belajar ikhlas.

Aku tersenyum. Berharap dapat menetralkan suasana. “nah, trus? Kenapa? Apa ada yang salah? Selamat ya? Kalian udah jadian? Wah… PJ ni… PJ… hehe..” ucapku jahil.

“shill, gue gak bermaksud ngerebut dia dari lo. maafin gue. gue tau lo masih cinta sama dia. Maaf shill.. ify udah cerita semuanya ke gue. Tentang lo, tentang dia, kalian. Semua perjuangan lo selama ini.. dan, gue sampe nangis denger semua kisah lo..” terang gadis yang sudah menjadi temanku sejak kami duduk dibangku smp hingga sekarang aku mendapat sebutan siswa kelas 2 SMA, dia masih tetap memeganng predikat sebagai temanku. Aku dapat melihat butiran yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Yang bersiap meluncur dan melukiskan sebuah aliran sungai kecil dipipinya.

“ah, ngomong apa sih lo? gue tu udah gak punya perasaan apa-apa sama dia lagi..suer deh!” ucapku sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengajku sehingga membentuk huruf V.

“ah, shill, udah cukup shill… lo jangan kayak gini lagi. gue gak suka ngeliat lo yang sok kuat gitu. gue udah kenal locukup lama shill. lo.. aarrggh.. gue gak tega liat sahabat gue sendiri kayak begini.. lo harus..” aku tau ify mulai mulai emosi.

“fy, gue serius.” Potongku cepat. Sahabatku it menunduk. Mungkin menyesali perbuatannya yang telah menceritakan semuanya. Padahal, aku sama sekali tak menyalahkannya.

“ify gue minta buat cerita tentang semua perasaan lo. dan dia sampe nangis ngejelasin semuanya ke gue shill.. gue juga gak kuat dengerin semua penjelasan ify tentang lo. kalo lo emang masih cinta sama dia, gue bakal lepasin dia buat lo shil..” terangnya. Butiran bening It pun meluncur dari pelupuk matanya.

“denger ya?” ucapku pelan. Ku pegang sepasang bahu gadis itu. Berharap ia dapat merasakan apa yang aku rasakan.

“gue Cuma sahabatnya. Atau bahkan dibilang gue Cuma temennya. Dia Cuma masa lalu buat gue. Lo tau kan kalo hidup itu harus berjalan. Gue gak akan jadi orang yang menghentikan perjalanan lo buat ngerajut kisah bareng dia. Gue mohon. Lo jangan jadiin gue sebagai alasan lo nolak dia. Bahagiain kita. Bahagiain gue karna lo udah bikin dia bahagia. Dan bahagian dia karna lo udah mau nerima dia. Oke?” selangkah aku pergi,

“hmm… fy, udah ya? Gue gak nyalahin elo kok! Hehe..” aku pergi meninggalkan mereka dengan berasalan aku harus ke lab biologi untuk praktikum. Sekarang. koebohongan yang sungguh tolol menurutku.

Tuhan, apa yang harus kulakukan? Secepat itukah dia berpindah hati? setelah ify, sivia, sekarang Angel? Kau memang playboy. Tapi, untung saja semua sahabatku menolakmu karna dia tau tentang kita. Sedangkan dia, gadis itu? Dia sama sekali tak menolakmu. Dia malahan membalas baik perasaan cintamu. Ingin rasanya aku meukul wajah gadis itu. Tapi, kanapa harus ada kata ‘masih’ didepan harapanku itu?. Aarghh, sakit sekali rasanya. Seperti ada segerombolan virus mematikan yang menyerang tubuhku.

“shil, udah donk.. lo gak usah sok senyum gitu? gak tega gue liat lo gitu? plis shil, apa perlu gue ngomong ke Angel kalo lo masih cinta sama dia?”

“eh.. gak usah fy… apaan sih lo? Ogah ah!” sambarku cepat. Seharian ini, ify selalu sibuk memikirkan perasaanku. Padahal, aku sendiri tak mau ambil pusing. Lebih baik aku memasukkan seribu rumus fisika yang tak akan aku mengerti dari pada aku terus memikirkan mereka.

“shill, lo kok pucet? Pasti gak sarapan lagi?” selidik ify.

“hehe.. as usual.” Jawabku enteng.

“tuh fy, lo panas lagi. Demam ya? Lo mulai kapan gak makan? Bawa obat gak? Udah. Lo pulang aja ya? Gue anter deh..” celoteh ify. Tanpa disadari ternyata angel yang sedari tadi duduk dibangku dekat kami mendengar perbincangan kami tadi,

“tuh kan fy? Lo pasti sakit gara-gara gue? Iya kan?”

“gak kok.. gue emang gak sarapan tadi” ucaoku sambil mengulas sebuah senyum.
Baiklah, saatnya pulang. ‘pulang’ aku membenci kata-kata it. karena, aku bukan anak kebanyakan. Yang akan disambut senyuman hangat saat disampai di istanaku. Bukan. Aku bukan seperti it. Orang tua lebih memilih tersenyum menyambut klien-klien mereka yang aku pikir sama sekali tak penting.

Aku meraih macbook putih yang kubeli atas kerja kerasku sendiri. Aku mulai memencet tombol on, dan sejurus kemudian, mac it sudah menyala dan siap kubawa didalam dunia blogku. Jari jemariku dengan indahnya menari di atas tuts-tuts keyboardnya. Merangkai beberapa buah kalimat dan tercipta sebuah curahan hati disitu. Kuceritakan semuanya. Tanpa sensor. Bahkan nama kami pun tak aku sensor! Biarlah, Aku tak peduli. Lagi pula mana tau mereka alamat dunia kecilku ini? Iya kan? mereka iu manusia fecebook yang Cuma updatenya di situs social it saja. Apa pentingnya coba?

Cuma ada status dan foto-foto disitu. Dan beberapa orang alay yang selalu meng-update statusnya tiap detik. Selesai. Ku baca lagi postinganku kali ini. Aku yakin jika dia mambacanya, dia akan marah padaku. Aku tak peduli. biar sekalian saja dia tau isi hatiku. Maksudku mereka.

Hiruk pikuk pembicaraan bisnis orang tuaku membuat ku sumpek malam ini. Aku sendiri belum mengisi perutku sejak tadi pagi. hanya sebotol minuman karbonasi dan snack milik ify yang aku habiskan tanpa persetujuannya dikantin tadi. Aku putuskan untuk keluar rumah. Setidaknya masih ada hal lain yang dapat aku lihat di sekitar perumahan ini. Kutenteng tas gitarku yang tebal dan terbuat dari kulit it menuju recreation hall di komplek perumahanku.
Di taman komplek, tepatnya dipinggir kolam, aku duduk sendiri. “ceklek…” kubuka tas gitarku yang cukup berat. Jari kananku sibuk bergesekan dengan senar yang dulu pernah melukai tanganku ini. Sedangakan jari kiriku sibuk memindah-mindah posisi dan menekan senarnya. Meciptakan nada indah yang membuatku terhanyut.

I could honestly say
You've been on my mind
Since I woke up today (up today)
I look at your photograph
all the time
These memories come back to life
And I don’t mind

Aku mengingat semuanya. Semua kenangan kita, Menari-nari dihadapanku. Membuat aku rasanya ingin ikut menari juga bersama kenangan itu. Saat pertama kali kau menjadi sahabatku. Kau belum dapat mengeja namaku dengan benar. Begitu juga aku. Saat pertama kali kau bilang kau cinta aku.

Dan konyolnya, kita masih mengenakan seragam sekolah dasar. Saat kau hadir kembali dalam hidupku dan memberiku kabar baik bahwa kau juga masih mencintaiku. Disaat itu aku tak seidikitpun melupakanmu. Aku selalu menunggumu. Berharap banyak terhadapmu. Walau aku harus menerima kenyataan bahwa kita beda sekolah. Dan saat kau hadir sebelum aku memakai seragam putih abu-abu it, kau memberi kado terbaik dihari ulang tahunku yang ternyata sangatlah menyakitkan.

Kau memintaku menjadi kekasihmu. Kupenuhi itu. Tentu saja. Itu harapanku. Khayalan yang selalu menghuni mimpiku. Tapi ternyata, kau hanya menjadikan ku bahan bercandaan bersama teman-temanmu. Tega, Pikirku. Dan it kau lakukan saat aku mengulang hari kelahiranku. Tanpa kau sembuhkan luka itu. Aku sampai pontang-panting menyembuhkan luka ini. Yang masih sakit hingga saat ini. Tapi hasilnya nihil.

I remember when we kissed
I still feel it on my lips
The time that you danced with me
With no music playing

Aku manatap air kolam yang tenang itu dengan nanar. Cahaya lampupun semakin membuat mataku bercahaya karna ada beberapa butir cairan yang siap turun dari mataku. Tapi kutahan.

i remember those simple things
I remember till I cry
But the one thing I wish I'd forget
A memory I wanna forget
Is goodbye…

Cukup. Aku tak mau larut. Aku tak mau terlihat lemah. Kulihat sekitarku. Untung saja sepi. Hanya ada 1-2 pelanggan di café seberang kolam ini. Aku harus kembali. Bersiap untuk tidur dan besok harus kembali ke gedung sekolah dimana aku telah mendengar kabar terburuk itu tadi pagi.

Sebelum tidur, ku usap amplop coklat yang aku terima bulan lalu it. Hanya ada bahasa labolatorium didalam amplop it yang sama sekali tak aku mengerti artinya apa?. Tapi, ada satu kalimat yang cukup menegaskan tentang apa yang aku idap selama ini. Dan, ternyata, aku… ah, sudahlah! Benar-benar tak ada mood untukku membahasnya. Dadaku selalu sesak jika membahas hal itu. mengikis harapanku saja.
Disekolah, selalu berjalan seperti biasa. Santapan rumus matematika selalu menyerbu otakku dan membutanya ingin meledak. Aku letih, aku beralasan ijin saja kekamar mandi.

Dikoridor sekolah aku berpasan dengan dia. Yang aku ingat semalaman. Yang telah membuat kenangan-kenangan indah dan pahit didalam hidupku. Dia menatapku. Tajam. Sakit. Apa? Ada yang salah? Pikirku. Saat pertama kali masuk disekolah ini, kau selalu bertanya, “kenapa lo merhatiin gue kayak yang lo gak seneng sama gue gitu?” dan, akupun belum dapat menemukan jawabannya hingga saat ini.

Aku tak menghiraukannya. Jika ada seseorang yang bertanya. Maukah kau sekedar menyapanya? Sangat! Aku akan jawab itu dengan penuh semangat. Aku memang ingin manyapanya. Sekedar ingin menyapanya. Tapi, aku juga abg yang selalu memegang teguh kata ‘gengsi’ untuk mempertahankan harga diriku.

Bailah, ini cukup menegangkan. Lihat kan? aku berpapasan saja sudang tegang. Keringat dingin pula.

Singkat cerita..
Aku harus bersiap. Karna sebagai anggota pecinta lingkungan aku harus bersiap untuk menghadiri sebuah kegiatan di luar sekolah. Teman-temanku termasuk ify sudah meninggalkanku ke parkiran. Aku masih sibuk mengatur barang-barangku yang tadi berjatuhan. Tanpa aku sadari, ternyata aku berada didepan kelasnya. Aku melihat dia keluar. Sekedar membuang sampah. Dan dia berteiak. Wlau tak begitu kencang, tapi cukup terdengar hingga kedalam kelas.

“eh, riko liat deh! Ada cewek bejat tu! Ko, liat deh..” ucapmu sinis. Aku tak tau siapa yang kau maksud. Hanya ada aku dikoridor itu. Dan kau menunjuk kearahku. Apa maksudmu aku yang bejat? Aaarrggh, apa lagi ini? Apa lagi salahku? Tuhan, kuatkan aku. Aku pergi tanpa menghiraukan cemoohmu tadi yang cukup membuat aku sakit.

----------------

Pernakah kau?
Pernahkah kau mengisi penuh halaman hidupmu tentang seseorang yang tak pernah menghargaimu?
Hingga membuatmu lupa untuk menceritakan hal lain yang lebih membuatmu bahagia?
Kau akan menjadi sangat konyol..

-----------------

#malam hari

Aku lelah setelah seharian ini berkegiatan diluar sekolah. Aku ingin istirahat. Rasanya pusing sekali. Sekelebat pemikiran telah meracuni otakku. Rumus fisika, kondisiku, omelanmu, orang tuaku, aarrghh.. aku lelah. Aku tertidur juga akhirnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dunia ini akan menjadi lebih terang dengan adanya kau disini..
Kau adalah inspirasiku, kau adalah api yang menyala didalam hatiku. Dan tak ada yang dapat menjelaskanya lebih baik..
**********************
Aku cukup menghilang disekolah. Dan, kawan-kawanku cukup merasa aneh atas ketidak masukanku yang terlalu sering. Mereka sering mengintrogasi ku, dan aku hanya dapat menjawab, “papa gue minta gue urusin perusahaan bentar..” aku tak tau alasan itu cukup logis atau tidak, yang jelas mereka percaya saja.

“shil, kemana aja lo? Lama banget gak masuk? Seminggu tau!” sapa ify.

“hehe.. sori! Itu, papa ajak gue ke spore. Ngurusin bisnis gitu deh..” ucapku bohong. Sedikit perbicanganku terpotong karena hadirnya angel diantara kami.

“shil, bisa ngomong bentar?” aku mengangguk lemah. Dan membuntut dibelakangnya. Dia berhenti tepat ditaman sekolah. Cukup sepi memang. Hanya ada beberapa anak yang berdiskusi tentang mata pelajaran yang tak dimengerti atau mereka-mereka yang sedang bermesraan memuji satu sama lain sebagai kekasih.

“maaf kalo gue udah bikin lo sakit hati. Gue tau mungkin sekarang lo udah benci sama gue.” Ucapnya pelan tapi cukup ku tangkap baik-baik ditelingaku. “tebakan yang tepat!” batinku. Aku tetap tersenyum.

“lo cinta sama dia ngel?” tanyaku sambil tersenyum tipis. Kulihat ia mengangguk. Pelan tapi pasti. Huh… aku harus bagaimana? Aku tak tega menyalahkanya. Bukankah setiap manusia berhak memilih cintanya masing-masing? Aku mungkin masih perlu waktu untuk belajar ikhlas.

“lo udah jadian sama dia?” dia mengangguk sekali lagi. ‘yang tegar shil’ ucapku dalam hati mencoba menguatkan diriku sendiri.

“shil, gue mungkin orang terjahat didunia ini. Gue tega ngambil orang yang dicintai sama temen gue sendiri.. tapi gue gak bisa ngelakuin apa-apa lagi shil.. gue emang.. cinta… sam dia” ucapnya tebata-bata.

“apa yang mesti lo takutin ngel? Denger ya, gue akan selalu ngedukung elo. Apapun keputusan lo. Jangan pikirin gue. Udah. Gue gak papa.. lo harus terus ngejalanin cinta lo ini. Kalo lo gak nerima dia, lo bakalan nyakitin gue dan nyakitin dia. Lo mau nyakitin kita? Gak kan? Dia itu sahabat gue ra, kalo sampe dia kecewa, gue bakal sedih banget.” Ucapku. Entah dari mana kata-kata itu ku dapat? Dengan lancarnya kata-kata itu keluar dari mulutku.

“gue denger lo udah gak deket lagi sama dia kan? lo gak pernah disapa sama dia kan? itu pasti gara-gara gue.. maafin gue shil..”

“ah, ngel! Lo kok minta maaf mulu sih? Gak capek? Udah deh. Gak papa kok! Udah ya? Jangan nangis lagi, brabe ntar kalo dia liat lo! Eh, gue ke kelas dulu ya? Bu winda ntar lagi dateng ni? Lo gak papa kan ngel?” dia hanya mengangguk. Aku pergi meniggalkannya yang mungkin sedang sibuk menata hatinya yang sedang bingung.

“braakk…” lelaki itu membanting meja dihadapanku. Membuatku cukup terkejut.

“apa-apaan lo shil?” teriaknya. Aku mengangkat sebelah alisku. Keringat dingin mulai deras menyerang tubuhku.

“apa?” tanyaku pelan. “tega lo! Lo tau apa yang udah lo tulis di blog lo itu? Ha?? Lo itu udahbuat dia nangis shil! Tega lo ya? Dia itu gak mau jadian sama gue Cuma gara-gara dia mikirin lo. SALAH SIAPA LO MASIH SAYANG SAMA GUE? Itu tu udah masa lalu shill. Bisa gak sih lo lupain? Gue itu bingung harus bersikap gimana sama dia. Dia itu Cuma pengen lo kayak waktu smp dulu. Gue capek selalu nanangin dia sampe malem yang alasannya Cuma mkirin elo!!” dia mulai emosi.

Perih. aku ingin menangis. Sekarang. saat ini juga. Dihadapannya. Aku ingin meronta memohon agar dia jangan lagi menyalahkan aku lagi. Tidak bisakah dia manjaga perasaanku? Aku ini juga bisa menangis. Apa salah jika aku masih mencintaimu? Jika iya. Maaf.

“lo ngomong apaan sih kka?”

“bejat! Maksud kata bejat di blog lo itu angel kan? cemen lo.” Ucapnya. Sebisa mungkin aku tersenyum. Menyimbolkan rasa hancur dihatiku yang tak dapat lagi dijelaskan..

“maafin gue.. itu Cuma curhatan gue. Apa ada yang salah? Kalo lo gak suka, lo mending gak usah baca blog gue..” Ucapku pelan mencoba tetap tenang.

“aarrgghh.. mau lo itu apa sih?” aku tak kuat melihatnya marah begitu padaku. Sepanjang sejarah hidupku, dia tak pernah semarah itu. Apalagi hanya membela gadis itu. Gadis yang ia baru kenal 5 bulan terakhir ini. Sedangkan aku? Aku suda bertahun-tahun mengisi lembaran hidupnya.

“maaf. Gue gak bakal ngelakuin itu lagi. Sampein maaf gue buat angel. Dan…. Maaf juga kalo sikap gue yang masih mencintai elo itu salah. Maaf karna kelancangan gue masuk dalam hidup kalian.” Aku langsung pergi meninggalkannya yang aku yakin dia masih emosi kepadaku. Aku pergi. Entah kemana kulaju mosil swift putihku itu. Dipantai. Aku sampai juga kesini.
Aku terjatuh dipantai itu. Jatuh diatas pasirnya yang lebut dan putih. Angin sejuk langsung menyapaku. Deru ombak juga menyambutku. Menghilangkan sejenak rasa sakit itu. Aku menangis. Untuk kesekian kalinya aku menangis karena dia. Bodohnya aku.

^^^^^^^^^^

Aku kelelahan setelah acara menangisk tadi sore. Aku hanya tertidur. Kulirik jam beker hitam dilaciku. 21:36. huhh.. aku bahkan belum melepas seragamku. Sebuah pesan mengisi inboxku. Dan pengirimnya. Angel. Ya. Aku tadi mengirimkannya pesan. Singkat. Tapi aku pikir cukup pasti.

To:angel >.<
Gue tau lo pernah ada diposisi gue skr.. gue tau lo juga bisa ngerasain apa yang gue rasain skr.. gue yakin lo bisa ngambil keputusan yang terbaik.. buat lo, buat gue, buat kita….

Ashilla
Singkat tidak? Aku pikir itu singkat. Dan, dia membalasnya.

From : angel >.<
Maafin gw shill, gw gak bakal miliki dia seutuhnya. Gw janji. Gw akan belajar menghormati lo sbg sahabat gw..
Aku memilih untuk tak membalasnya. Aku terlalu lelah. Kulanjutkan saja acara tidurku malam ini. Sebelum beberapa rasa nyilu kembali menyerangku lagi.

^^^^^

“BRAAAAKK!!!!....” papaku membanting macbok kesayanganku itu.

“papa, papa apa-apaan sih pa?” tanyaku parau.

“apa itu? Juara 2? olimpiade fisika? Mau jadi apa kamu? ha??”

“pa, aku ini yang aku bisa. Papa gak bangga sama aku?”

“bangga apa ini shila? Cuma nasional? Kenapa harus nasional kalo kamu bisa internasional? Percuma mama ajak kamu bolak-balik luar negri kalo kamu seperti ini..”

“mama, papa maunya apa? Kenapa kalian gak bisa menghargai aku sedikit aja!!! Aku capek ma, aku selalu jadi bonekanya kalian!! Aaarrgghh…” teriakku.

“PLAAAAKK!” sebuah hadiah tamparan keras dari papa mendarat dipipiku. Membuat pipiku, sepertinya memar. “berani melawan? Diajari siapa melawan?” bentak mamaku. Aku hanya merintih. Sakit sekali rasanya. Tega sekali mereka.

“apa kurang papa kasih uang jajan? Ini itu? ATM? Mobil? Kurang?”

“ambil pa… ambil semua. Shila gak butuh! Yang shila butuh Cuma kashi sayang papa sama mama. Silahkan, silahkan kalian kembali sibuk dengan agenda meeting kalian itu yang lebih penting dari pada shila.”

“SHILA!!!!” bentak mama.

“apa ma? Tampar shila lagi! Biar jadi pipi tomat sekalian ni pipi shila! Shila capek ma? Shila iri sama temen-temen shila yang setiap pulang sekolah bisa curhat sama mamanya? Lha mama? Kemana mama waktu shila butuh tempat buat mengadu? Buat menampung air mata shila? Kemana mama yang harusnya menghargai apapun yangbisa shila dapetin dari hasil kerja keras shila? Bukannya malah menuntut lebih! Dan KEMANA KALIAN WAKTU AKU DIVONIS KANKER OTAK STADIUM AKHIR SAMA DOKTER SIALAN ITU? Aku shila.. aku masih anak kalian..” aku pergi meninggalkan mereka.

“shila!! Sini kamu!! shila! Kamu harus jelasin apa maksud kamu?” teriak papa dari dalam rumah. Aku tak membiarkan mereka. Biar saja mereka larut dalam rasa bingung mereka sendiri. Aku ingin pergi. Kemanapun waktu melaju membawaku. Aku hanya ingin tenang.

Aku terjerat dikamar apartementku sendiri. Semalaman aku terisak sendiri di tepi pantai. Baru tengah malam aku kembali kesini. Setelah kejadian kemarin antara aku VS kedua orang tuaku. Aku tak kembali kerumah. Aku memilih menghuni apartement yang sudah seminggu ku tinggal ini.Tak ada yang dapat kuminta untuk menemani aku. Ify-pun masih ada diluar kota. Kuputuskan, aku pergi keluar sendiri. Jenuh..

@purple dejavu café


“sial…” bajuku basah. Aku kedinginan, hujan-hujan itu menyapaku. Membuat gigi-gigiku menggertak kedinginan.
Aku duduk di bangku pojok. Disebuah sofa hitam empuk. Lumayan. Mengurangi rasa lelahku setelah berjalan dari parkiran mall tadi. Posisi yang tepat. aku dapat dengan leluasa memperhatikan hujan-hujan yang ramai-ramai menyerbu permukaan bumi. Membasahi apapun yang mereka mau. Menciptakan sebuah embunan kecil dikaca café. Jari telunjukku melukis dua buah huruf diatas embunan itu. Aku hanya tersenyum kecil.
Sesekali kuhirup aroma manis dan hangat dari hot chocolate yang tadi kupesan. Sambil menyendokkan black forest mini kedalam mulutku, ku bolak-balik saja majah girls yang ada di meja café ini.

Pandanganku tersita oleh sepasang orang yang duduk disebuah bangku. ‘mereka?’ aku sedikit terkejut. Kututupi wajahku dengan majalah girls tadi. Entah apa aku meletakkannya terbalik atau tidak, aku tak peduli. Kuharap mereka tak mengenaliku. Sedikit-sedikit kuintip aktivitas mereka.
Sial! Mesra sekali mereka. Suap-suapan, dia mengusap rambut basah gadis itu penuh cinta. Dapat kulihat sorot matanya. Munafik! Angel bilang dia akan berusaha menghormatiku? Apa ini namanya? dia sudah menusuk aku!

Aku memperhatikan keadaanku saat ini. Berantakan. Rambutku cepol asal. Kemeja kotak-kotak yang kubiarkan terbuka dan memperlihatkan kaus hitam polos, celana jeans hitam, dan sepatu kets merah. Tas yang kuselempangkan. Bayangkan dengan dia.
 
Dia terlihat anggun dengan dress soft yellow selutut yang dan celana ketat coklat tiga perempatnya. Apa namanya? Legging? Ah, tau lah! Rambutnya walau basaha juga terlihat rapi. Ia juga dengan lincahnya menggunakan hingheel ber-aksen orange itu. Bayangkan saja jika aku memakainya, kaki dan lututku pasti sudah terluka akibat terjatuh. ‘aku bukan dia’ rutukku dalam hati.

Sudah cukup aku membakar hatiku sendiri dengan terus memperhatikan mereka. Kuputuskan untuk pergi saja. Aku harap mereka tak melihatku. Tentu saja mereka tak akan melihatku. Mereka sedang asik memamerkan kemesraan. Aku keluar. Walau hujan, aku tak peduli. Biar saja aku basahi lagi badanku angbaru saja kering. Mungkin saja rasa sakt ini turut hilang beriringan dengan turunnya hujan.

^^^^^^^^^

“fy, shila mana?” tanya angel.

“wah, gak tau gue ngel.. dia gak masuk dan gak kasih kabar ke gue tuh.. kenapa?” jawab ify bohong.

“gak papa.. fy, kok shila jarang masuk sekolah lagi sih gue liat?”

“ha?? E.. iya, di.. dia.. nemenenin bokapnya di spore. Ngurus bisnis..” ify gelagapan.

“cewek? Ngurus bisnis? Dispore? Wow!!” angel membentuk mulutnya menjadi huruf o. ify hanya mengangguk agar dapat sedikit meyakinkan angel.

“ya udah deh, salam aja buat ify..”

“iya..” jawab ify. Engel pun pergi meninggalkannya. “fiuhh..” pikir ify.

^^^^^^^^^^^

“shil, tadi angel nanyain lo. Oh ia, maaf ya shil sebelumnya, gue mau cerita..” ify menyetuh punggung tanganku.

“jadi shil, ternyata, mereka udah jadian. Gue sebel sama mereka. Gue sebel kenapa mereka gak ngerti elo kayak gini. Apa lagi kondisi lo kayak gini? Maaf ya shil, kalo beritanya malah bikin semangat lo nyusut. Lo harus bangun shil.. jangan biarin mereka menganiaya lo terus.. gue mohon shil, bangun.. gue kangen banget sama lo! Kita udah jarang banget ngumpul-ngumpul..” sebuah cairan hangat jatuh dilenganku. Air mata ify. Ify menagis. Ya tuhan, aku tak tega jika temanku yang satu ini manangis begini. Apa lagi Cuma karna kondisiku yang sekarat begini.

“gue harap gue bisa ngasih sedikit energi ke elo shil.. meskipun lo gak sadar, gue yakin lo bisa denger gue shil.. lo bangun ya shil.. gue kangen lo.. anak-anak juga kangen lo..” ify mengelus lembut pipiku. Dan, ia pergi meninggalkanku.

“makasih fy..” ucapku dalam hatiku. Aku masih tak sadarkan diri setelah virus-virus itu menyerang aku lagi. Aku sekarat. Sudah tiga hari ini aku koma. Aku juga sudah menjelma seperti robot. Selang-selang yang berwarna-warni itu menancap di tubuhku. Jarum-jarum suntik yang setiap hari harus ditusukkan kedalam tubuhku. Cairan-cairan obat itu sudah sukses mengkontaminasi tubuhku. Hari-hariku hanya dipenuhi dengan suara bip dari alat pengukur detak jantung itu. Bernafaspun aku masih menggunakan masker pengap sialan itu. Aku terkekang. Setiap 2 jam sekali, Dokter-dokter dan pasukannya itu akan menengokku. Melihat apakah aku masih diizinkan hidup atau tidak.
Disatu sisi, aku ingin bangun, disisi lain, aku akan tetap begini. Ini bukan kehendakku. Aku merindukan mereka. aku merindukan ify, aku merindukan orangtua yang selalu sibuk menuntut itu.
Seminggu berlalu…

Ify selalu membawa kabar-kabar tentang mereka. Walau ceritanya tak pernah aku sauti, tapi dia satu-satunya orang yang selalu setia menemaniku.
“hai shila… pagi.. shila bangun donk? Kangen gue sama lo!!!” ify menggenggam tanganku erat.

“shil, orang tua lo berubah! Lo tau? Mereka udah sering jenguk lo!! Semalem mereka disini ngejagain elo! Dan gue denger dari mama lo, katanya semalem lo mau sadar ya? Yah.. kkok lo gak sadar sih” aku dapat melihat ekspresinya yang manyun itu. Lucu sekali.

“oh iya.. ada kabar baik.. nah, ternyata mereka udah putus shill!! Yeeyy.. gue turut seneng ya shil? Jadi gini shil, angel itu ternyata baru putus sama si riko 2 bulan lalu. Nah, dia Cuma jadiin si cakka itu pelarian doank!! Lo tau gak? Cakka marah besar! Mereka sampe tengkar dikoridor sekolah mereka! Diliatin anak sesekolahan lagi!!!.. Puas gue liat mereka bertengkar. Karna sahabat gue gak akan tersakiti lagi.. ya, walaupun kedengerannya ge jahat!! Hehehe… senyum donk shil. Jelek lo menyun mulu! Makanya bangun! Biar cantik kayak gue.. ahil, sory ya? Gue gak bisa lama? Cuma mau nyampein itu? Gue mesti balik.. nyokap gue telfon.. see you my shila..” ify mengecup keningku.

“gue kangen lo! Cepet bangun ya..” bisiknya tepat ditelingaku. Aku juga merindukanmu ify. Tapi apa daya? Ini bukan mauku..

^^^^^^^^^

“eh fy..” panggil seorang cowok dari ujung koridor. Ify berlari kecil menuju kearahnya. Sedikit menerobos ramainya aktivitas koridor sekolahku.

”kenapa kka?” tanya ify. “ntar pulang sekolah ikut gue bentar ya? Ada yang mau omongin ke lo! Gue tunggu di puple dejavu café. Oke?” terang lelaki itu. Ify Cuma magggut-manggut sebagai jawaban iya.

@purple dejavu café


“ada apaan ni kka? Tumben-tumbenan..”

“e.. gu.. gue.. e..” cowok itu gelagapan buat nanya sesuatu.

“shila kamana ya fy?”

“masih peduli lo sama shila?”

“lo pikir?”

“lo iu jahat tau!! Tega lo nyia-nyiain mahluk tuhan sebaik dia Cuma buat mahluk tuhan sebusuk tu cewek!” jawab ify emosi.

“maksud lo?” tanyanya lagi.

“lo masih gak ngerti? Ampun deh lo!! Shila itu masih sayang sama elo! Dari dulu. Sampe sekarang. dia itu udah susah payah ngejaga perasaannya utuh buat lo! Dia selalu tersenyum tiap lo jadian sama cewek lain. Bukan karna dia seneng. Tapi karna dia terlalu pintar buat bersandiwara didepan lo!!. Begitu dia tau kalo dia Cuma jadi pendengar yang baik buat semua curhatan lo tentang cewek-cewek lo, dia itu seneng banget..” balas ify emosi. Wajahnya mulai merah. Cowok dihadapannya itu Cuma menunduk. Kelihatannya menyesal.

“ya itu fy.. gue pengen minta maaf sama dia.. apa lagi waktu itu gue udah bentak-bentak dia karna dia nulis-nulis di blognya?”

“oo.. jadi lo yang udah ngebentak dia? Aarrghh.. lo tau gak sih kka? Dia semaleman dipantai gak pulang. Dia Cuma diem. Gue tanya gak dijawab. Gue pikir dia tengkar lagi sama ortunya. Ternyata lo? Ngapain sih lo nyalahin shila? Dia kan Cuma curhat? Gimana kalo lo ada diposisisnya shila? Dia itu tegar! Gue salut sama dia. Dan gue heran sama lo yang udah dengan begonya nyia-nyiain sahabat gue yang baik itu.”

“gue sebel waktu itu. Angel nangis terus..”

“angel? Apa bandingannya angel sama shila? Shila udah bertahun-tahun lo kenal kka.. sedangkan angel.. baru pas masuk SMA lo kenal dia, tapi kenapa lo malah belain tu cewek? Mana lo pake nyalahin shila lagi! Gue aja sampe nangis dengerin ceritanya dia. Bukan dia yang nagis.. tapi gue.. hebat kan dia?”

“iya gue nyesel banget fy.. gue pengen minta maaf sama shila. Dan mulai semuanya dari awal. Sekarang, shila dimana?”

“shila di RS!” jawab ify singkat.

“RS? Kanapa?”

“kanker!” ucap ify keceplosan yang langsung nutupin mulutnya pake tangan kanannya.

“fy, jelasin ke gue apa maksud lo tadi. Shila kena kanker?” ify diam. Ia dalam keadaan mepertimbangkan janjinya kepada shila dan dia ingin membantu shila.

“iya kka.. shilla kena kanker..’ jawab ify lirih.

“kanker apa fy?” tanya cakka menguncang-guncang bahu ify.

“dua tahun lalu, shila divonis kenker otak stadium awal. Dia gak ngasih tau ke orang tuanya karena orang tuanya yang super sibuk itu. Dia bahkan gak ngasih tau gue. Gue baru tau pas ngacak-ngacak lacinya. Setahun berlalu, shila gak ngerasa sakit yang berlebiha kayak awalnya. Tapi, itu titiknya. Dia malah naik jadi stadium tiga. Doter nyaranin buat di kemo. Tapi, shila ngotot gak mau. Waktu dia mau ngaku sama orang tuanya, orang tuanya malah pergi ninggalin dia ke jepang selama satu tahun ngurusin perusahaan bokapnya shila. Shila sendirian, Kesepian. Cuma gue yang nemenin dia. Pas mau masuk SMA, lo ngerjain dia buat jadi pacar lo kan? lo tau dia sakit banget pas saat itu! Tapi dia lega pas kalian sahabatan. Sekalipun Cuma sahabatan. tapi Pas masuk SMA, dia seneng banget waktu tau dia satu sekolah sama elo! Tapi lo malah kayak gitu. lo malah makin mejadi-jadi. Nembak cewek sana-sini. Tanpa lo sadar, lo selalu nyakitin shila. Lo selalu nyalahin dia kalo kalian lagi ada masalah. Dan dia selalu mengalah walaupun itu lo yang salah! Tapi, dia tetep bisa nerima lo sebagai sahabatnya.. “

“trus, masalahnya jadi tambah berat. Orang tuanya jadi banyak nuntut, shila yang notabene anak penurut nurutin semua mau ortunya. Bolak-balik luar negri, ikut lomba ini-itu. Shila gak pernah dapet kebebasan milih jalannya sendiri. Setiap dia menang juara dua aja, dia langsung dibentak-bentak sama ortunya. Penyakitnya tambah parah karna keadaan shila yang super sibuk. Dia gak pernah pulang. Kalo pulang mesti malem. Gak ada yang ngurusin dia. Ortu tetep aja sibuk. Dia selalu kabur ke apartemen. Dia bilang dia gak kuat sama ortunya. Titik puncaknya, shila divonis stadium akhir. Dan, lo nambah-nambahin masalahnya dia.. dia jadi kehilangan semangat hidupnya.. minggu lalu, di ngedapetin lo lagi jalan sama angel. Dan lo tau apa yang angel lakuin? Dia itu udah janji sama shila buat gak mau lagi deketin lo. Karna shila itu masih sayang sama lo! Tapi, di malah jalan sama lo! Pacaran malah. Pas pulang dari mergokin kalian itu, dia bertengkar hebat sama ortunya. Sampe akhirnya dia ngaku dia kena kanker. Tapi telat. Hidupnya shila sekarat. Dia udaj koma seminggu ini..” ify sesenggukan ngejelasin semuanya. Cakka menunduk menyesal. Mengingat kembali semua yang pernah aku lakukan untuknya. Semua pengorbananku untuknya yang selalu ia pandang sebelah mata.

Sekarang apa yang dapat ia lakukan?

“anterin gue sekarang ke tempat shilla..”pintanya.

>>> 

@rumah sakit.


“tante.. om.. kenapa?” ify langsung menghampiri mama yang sesenggukan nangis diruang tunggu. Papa Cuma berusaha nenangin mama.

“shi.. shila…” ucap mama terbata-bata. Air matanya terus jatuh. Matanya udah sembab. Pertanda bahwa mama bukan baru saja menangis. Tapi sedari tadi. Papa juga terlihat berusaha menahan air matanya yang siap meluncur jatuh.
Ify dan cakka langsung masuk kedalam ruangan beraroma obat itu.

“Shila masih tidur ya?” tanya cakka polos.

“dia tidur nak.. untuk selamanya..” ucap dokter itu sambil memegang bahu cakka. Seraya pergi meninggalkan mereka bertiga.

“shil.. shil… bangun shil…. Shil lo gak boleh pergi!! Lo belom pamit ke gue.. shil, jangan pergi bangun shil!! Hikss…” ify menangis histeris. Ia manggunang-guncang tubuh shila yang masih mengenakan seragam biru Rumah sakit itu.

“shil, gue udah bawa cakka kesini, lo harus bangun. Lo gak mau ngeliat mama-papa lo yang udah berubah? Lo gak mau jalan-jalan lagi shil sama gue? Hikss… lo gak mau jadi pacarnya cakka apa? Lo gak mau gue panggil nyonya cakka entar kalo udah gede? Shil.. bangun… hikss.. lo punya seribu mimpi yang belom lo capai sampe saat ini..” ify menangis. Cakka berjalan mendekati tubuhku yang sudah terbujur kaku. Semua selang dan alat-alat yang membuat tubuhku seperti robot sudah dilepas.
Cakka menggenggam tanganku.

“maaf gue…” kata-katanya terhenti.

“gue bego! Gu udah nyia-nyiain lo! Bangun donk.. buat gue.. buat ify.. buat orang tua lo.. buat kita semua.. gue belum sempet minta maaf sama lo!! Gue belum sempet ngeliat lo ketawa lagi dihadapan gue. Gue belum sempet dengar elo manggil nama gue untuk yang terakhir kalinya..” dua butir air suci itu turun dari matanya.

“bangun shil.. sebentar aja.. lo belum ngasih gue salam perpisahan.. shil, gue sayang elo! Gue gak munafik. Ini bukan sayangnya gue sebagai playboy. Ini sayangnya gue. tulus.. Cuma lo yang punya. Selama ini gue Cuma terlalu keras nyimpen perasaan ini ke lo.. alasannya, gue takut lo udah benci sama gue. Dan gue harus kehilangan lo! Dan sekarang gue bener-bener kehilangan lo! gue sadar shil.. gue sayang elo! Gue belum bisa kehilangan lo.. lo bahkan belom ngasih pesan-pesan terakhir buat gue.. maafin gue yang udah marah-marah ke lo.. maaf shil.. maaf.. gue emang bego..tolog bangun.. sekalipun lo gak bisa bangun, tolong jawab gue. Dengerin kata-kata gue tadi, dan tersemnyumlah buat kita.. gue kangen lo shil..” cakka memelukku erat. Menumpahkan air matanya di bahuku.

^^^^^^^^^^

Dear ify,
Dan, gue harap surat ini juga bisa lo baca cakk..
Waktu gue udah nyampe dirumah tuhan, kalian pasti lagi baca surat yang dikasih mama gue ini..
Dan gue tebak, lo nangis ya fy? Jangan donk sayangku… gue gak suka liat lo nangis.. ntar gue gentayangin lo ya? Hehehe…
Gue pergi dulu ya..
Jangan berharap gue pergi Cuma sebentar fy..
Maaf ya fy udah bikin lo nunggu kesadaran gue…
Pas tengah malem gue sadar, tapi kayaknya besok nyawa gue bakalan over deh! Hehehe..
Jadi, gue buru-buru tulis surat ini deh..
Ify…
Gak banyak yang mau gue bilang selain maaf dan terimakasih..
sel kanker keparat ini mulai mangabisi tenaga gue. Sekalipun Cuma buat nulis..
Gue gak tau mau ngomong apa-apa lagi..
Mungkin sedikit bercak darahyang ada dikertas ini udah cukup buat ngejelasin semua perasaan gue..
Makasih untuk semua kasih sayang lo sebagai sahabat..
Cakka..
Gak banyak juga yang mau gue sampein..
Selain terima kasih Untuk tahun-tahun yang luar biasa…
Untuk satu lemabaran cerita yang udah lo tulis di relung hati gue paling dalam…
Gue baik-baik aja disini..
Gue harap kalian juga masih bisa berdiri baik-baik aja disana..
Disini, sebisa mungkin gue menyiapakan tempat terindah untuk kita nanti..
Gue bakal jadi orang pertama yang nyambut kalian pada saatnya nanti…


Ashilla


- The end -

Love si ‘Cupu’(Cerpen) #end


Masih ada yang menunggu#kayaknya enggak
jangan donk!!
Yaudah, kita lanjut aja ya...


Di bag1...
>>
^^^^

“Coba aja dari dulu Rio kayak gini, pasti udah gue embat dari kelas satu.”Kata Dea.

“Bener tuh, ngelit dia sekarang kayak ngeliat pangeran yang turun dari langit ke tujuh”Kata Zevana

“But, sori yah guys, kayaknya Price Rio bakalan jadi milik gue”Kata Shilla

“Maksud lo Shill?”Tanya Dea

“Liat aja nanti”

“Tapi lawan lo si anak baru itu loh yang jadi bahan pembicaraan akhir akhir ini.”Kata Dea

“Lo tau kan apa yang akan seorang Ashilla lakukan??”Tanya Shilla balik.

“Lo beneran bakan ngelakuin itu Shill??”Tanya Zeva.

“Every thing I’ll do”Kata Shilla. Tiba tiba raut muka Zeva dan Dea berubah ketika melihat belakang Shilla.

“Shill…”Kata Dea ragu ragu

“Kenapa?”

“Em…I…itu”Zeva menunjuk seseorang di belakang Shilla, Shilla membalik dan,,

“Al…Alvin??”Shilla mengeluarkan  keringat dingin setelah melihat Alvin sedang berada di belakangnya.

“Lo…Lo denger yang tadi??”Kata Shilla ragu ragu. Alvin mengangguk dengan mantab.

“Jadi lo bakal ngaduin gue ke pak Radit?”Tanya Shilla sambil setengah menunduk.

“Gak”Shilla terkejut dan mengangkat kepalanya.

“Maksud lo? Bukannya lo suka banget sama Ify?”

“Iya, gue emang suka sama Ify”Shilla mengangkat sebelah alisnya.

“Tapi, gue juga sangat membenci Rio.”Jawab Alvin yang terdengar ketus dan cuek.

“Gue sangat benci karna dia udah ngerebut Ify dari gue.”Shilla tersenyum miring mendengar Kalimat yang di ucapkan Alvin.

“Gimana kalo kita kerja sama aja buat ngancurin hubungan mereka?”

“Sure, apa rencana lo?”Tanya Alvin.

***
Bag2...
Love si ‘Cupu’(Cerpen)

#Keesokan harinya (Pulang Sekolah).

“Yo, lo di cari sama Dea. Katanya lo di cari sama pak…Aduh gue lupa, lo tanya aja gih sama si Deanya. Dia ada tuh di belakang sekolah”Kata Zeva pada Rio.

“Oh,”Rio pergi ke belakang sekolah.

“Biar tampangnya sekarang cakep, tapi cueknya gak ilang ilang”Omel Zeva setelah Rio pergi.

@Belakang sekolah

“Kenapa de?”Tanya Rio begitu melihat dea yang sedang membelakanginya.

“E…itu” Dea membalik sambiul menatap semak semak dengan muka ragu ragu.

‘Deg!’

^^^

“Vin, Kamu liat gak Rio kemana?”Tanya Ify yang melihat Alvin keluar melewati gerbang sekolah.

“Rio? Tadi gue liat dia di belakang sekolah.”Kata Alvin

“Oh… makasi ya”Ify berlalu.

“Sabar Vin sabar…Sebentar lagi Vin…Lo harus sabar”Kata Alvi pada dirinya sendiri sambil mengelus dadanya.

^^^

Ify berjalan ke belakang sekolah sambil mencari cari rio dan,,

“RIO?!!”Pekiik Ify tak percay dengan yang dilihatnya. Ify langsung berlari…

“Fy!”Rio kaget melihat Ify. Rio segera melepas paksa pelukan Dea.

“Argh! Apa apaan sih Lo?! Kurang ajar banget sih lol! Apa sih mau lo?!”Bentak Rio pada Dea yang menundukan kepalanya.

“Sori yo, gue…”Kata Dea yang di potong oleh Rio.

“Alah Bushit lo!”Bentak Rio dengan penuh emosinya dan meninggalkan Dea yang menyesali perbuatannya.

“Sori…”

^^^

“Apa sih salah gue sama lo yo? Apa dari awal lo emang Cuma mau maiinin gue aja?! Lo jahat banget sih sama gue!”Kata Ify sambil berjalan kaki dengan berlinangan air mata. Tiba tiba…

‘Ciiiittt!!’

“AAAA!!!!!!!!!!!”

***

“Argh!!!!!”Rio mengacak rambutnya.

“Sabar yo! Gue yakin Ify pasti bisa maafin lo”

“Tapi…”

“Lo musti yakin yo sama Ify”Rio mengangguk.

‘Ify, gue harap lo mau maafin gue’Rio membatin.

***

“Fy, lo nggak papa khan?”

“…”Ify masih shyok atas apa yang baru saja di alaminya.

Ia diam. Tubuhnya bergetar. Matanya mulai berkaca kaca. Pandangannya kosong. Pikirannya terus berputar ke masa lalu.


“Halo?”

“Halo, Ify…Stev Fy…Stev…Stev……”Isak tangis seseorang di sebrang sana yang menelfon Ify.

“Stev kenapa??”Ify yang sedang mengendarai mobil langsung meminggirkan mobilnya dan berkonsentrasi dengan telfonnya.

“Stev kecelakaan Fy, dan sekarang Stev sedang berada di ruang gawat darurat, dan keadaannya kritis”Ify kaget.

Air matanya mengalir begitu saja. Handphonenya jatuh. Apa yang terjadi? Ia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Khawatir? Tentu saja. Seseorang yang sangat ia sayangi bahkan sangat cintai sekarang berada dalam keadaan kritis.
Dengan hati yang tak tentu ia berlari di koridor rumah sakit. Ia terus berlari dengan air mata yang masih terus mengalir dari matanya. Di dalam pikirannya hanya ada satu nama ‘Stev’, hanya nama laki laki itu yang sekarang berada dalam pikirannya.

“Ify!”Ucap seorang wanita parubaya yang merupakan ibu Stev. Wanita itu memeluk Ify dengan erat sambil menagis. Apa yang terjadi? Apa Stev baik baik saja? Pikiran Ify sangat kacau. Lalu wanita itu melepaskan pelukannya.

“Tan, Stev kenapa?”

“Tadi stev di tabrak mobil. Terus…dia dia…”Kata wanita itu terbata bata.

“Jadi Stev…”Ify tak dapat melanjutkan kata katanya. Hanya air mata yang melanjutkan semuanya.

“Stev ada di dalam sana sayang,”wanita itu menunjuk sebuh ruangan. Ify melihat Di dalam Ruangan itu. Stev yang terbaring dengan muka pucat dan tubuhnya penuh dengan alat alat medis.
Begitu perih hati Ify melihat keadaan Stev yang seperti itu. Sangat amat sakit hingga air matanya tak dapat berhenti mengalir. Tubuh Ify semakin lemas hingga ia terjatuh.

>>>

‘Tok tok tok’Ify mengetuk pintu kamar rumah sakit. Ini adalah hari ke tujuh Ify menjenguknya.

“Masuk..”

“Stevent, gimana keadaan kamuu?”Ify bertanya  pada Stevent  yang sedang terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit.

“kamu bisa lihat sendiri kan fy? Makin  bosen aja aku di rumah sakit.”katanya. Ify terkikik mendengar jawabannya.

“kalau bosen, makanya cepet sembuhnya.”raut wajah Stev berubah.

“Fy, klau nanti aku pergi kamu pindah ke sekolah aku di Jakarta yah,”pintanya.

“Hus, steven jangan ngomong gitu.”air mata Ify mulai menetes.

“Fy, kamu jangan nangis.”katanya sambil memeluk Ify.

“Aku yakin kamu pasti sembuh.”kata Ify.

“Maaf fy, aku capek dengan semua ini”

“Ga, kamu pasti bisa.”

“Fy, kamu janji yah, kamu akan tetap jadi Ifyku yang ceria, yang baik, yang ramah, dan perhatian. Jangan jadi Ify yang cengeng.”

“…”

“Don’t Cry againt, cause you’re priceless to me..before..and forever.”kata Stev…untuk terakhir kalinya pada Ify.

Tngannya sekarang terasa lebih berrat. “Stev..”

“…”

“Stevv….!”teriak Ify saat melihat darah segar mengalir dari hidungnya.

@Pemakaman.

“Stev, aku akan penuhi janji aku. Aku akan tetap jadi Ify yang ceria, yang baik, yang ramah, dan perhatian.
Dan aku juga akan pindah ke sekolah kamu di Jakarta.”kata Ify di depan makam Stevent sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan

‘GABRIEL STEVENT’.


(Back sound)
Tak pernah terpikir olehku
tak sedikit pun ku menyangka
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

begitu sulit ku menyangkal
begitu sakit ku rasakan
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

di bawah batu nisan kini kau tlah sandarkan
kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup ini terjadi
karna ku sangat cinta

 ini lah saat terakhirku melihat kamu
jatuh air mataku menangis pilu
hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih

satu jam saja ku telah bisa
cintai kamu kamu kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

satu jam saja ku telah bisa
sayangi kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

di nantiku

ini lah saat terakhirku melihat kamu
jatuh air mataku menangis pilu
hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih


satu jam saja ku telah bisa
cintai kamu kamu kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

satu jam saja ku telah bisa
sayangi kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup



Kepala Ify mendadak sakiit sekali. Air mata Ify mulai mengalir. Peristiwa itu terus berputar di kepala ify. Kini peristiwa itu terasa semakin menayakitkan dari pada biasanya. Ify terus memengangi kepalanya yang sakit.

“Fy, lo ga papa kan??Gue anter lo pulang ya…”Ify mengangguk kecil.

***

“Mama, Ify mau ke bandung ma…”

“Kok tiba tiba sayang?”

“Ify mau ke makamnya Stev.”

“Tapi kan sayang…”

“Please ma…”

“Yaudah kalo gitu. Tapi kamu tunggu minggu depan yah berangkatnya.”

“Gak ma. Ify gak mau”

“Loh kok gitu?”

“Aku mau berangkat malam ini juga”

“Tapi”

“Please ma, aku pengen banget ma”Air mata Ify menetes.

“Yaudah, mama pesen tiketnya dulu ya”

“Makasih ma”Ify memeluk mamanya.

“Iya sayang”

‘Stevent aku datang’
***

@Kelas

“Ify, lo dimana? Gue kangen sama lo…”Gumam Rio sambil menatap bangku Ify yang kosong.

“Yo, lo lagi nyariin siapa?”Tanya Iley.

“….”

“Nyariin Ify ya?”Tebak Iley

“…”

“Ify hari ini ijin. Katanya dia ada urusan keluarga gitu”Kata Iley.

Rio berfikir sejenak lalu langsung menyimpun barang barangnya dan bersiap keluar dari kelas.

“Ley…”

“iya iya, gue tau. Lo mau ijin kan?”Rio tersenyum

“Udah sana cariin si Ify”Kata Iley

“Thax ley”

“Emm…”Rio langsung pergi.

***

@Rumah Ify

‘Toktoktok’Rio ngetuk pintu rumah Ify

“Permisi”Seorang bibik membuak pintu rumah Ify.

“Eh, cari siapa ya nak?”

“Ifynya ada bik?”

“Loh? Non Ify khan sudah berangkat”

“Be…berangkat?”

“Iya”

“Berangkat kemana bik?”

“Ke makamnya tuan Stevent”

“Makam? Tapi kapan?”

“Tadi malam tuan”

‘Apa mungnkin Ify mau ngelupain gue? Dia gak mau ketemu sama gue karna dia marah  sama gue?’Batin Rio.

“Tuan? Tuan kenapa”Tanya Bibik itu karna melihat Rio yang bengong.

“Eh, engga kok. Yaudah yah bik, saya pergi dulu.”Rio langsung pergi menaiki motornya dan pergi ke rumahnya.

***

“Hoamm…Pagi dunia!”Kata Ify sambil bangun dari tidurnya dan membuka jendela kamarnya.

“Pagi diriku dan Pagi………Stev”Kata Ify sambil tersenyum

“Pagi ini cerah banget…Gue jalan jalan akhh…”Ify mandi dan sarapan lalu berjalan jalan di tempat yang dulu sering ia kunjungi sebelum ia pindah ke Jakarta. Saat ia masih bersaa Stev.


Ify duduk di bangku taman sambil memandangi taman bungan di taman itu. Ify tersenyum mengingat semua kenangannya di taman itu. Saat yang paling membahagaiakan Ify saat itu…Ify menutup kedua matanya…


“Ify…”

“Kenapa Stev?”

“Aku mau jujur sama kamu”

“Jujur?”

“Iya, aku mau jujur sama kamu tentang perasaan aku sama kamu”

“…”Ify diam pipinya merona. Stevent menggenggam tangan Ify erat.

“Aku sayang sama kamu Fy. Do you want to be girl?”Ify Memeluk stev

“Yes I do!”

“Thx fy!”Tiba tiba bunga bunga di sekitar mereka terbang kelopak kelopak bunga seperti berjatuhan dari langit. Sangat Indah.

“Kamu suka Fy?”Tanya Stev

“Ini kamu yang buat?”

“Every thing for you my lady”Kata Stev, pipi Ify semkin memerah.


Ify membuka kedua matanya lalu tersenyum

“Aku beli bunga dulu deh buat ke makam Iel”Kata Ify sambil pergi ke toko bunga langganannya.

***

“Yo lo mau ke mana?”Tanya Cakka yang melilhat Rio sedang menyimpun barang barangnya.

“Gue mau nenangin diri gue dulu”

“Ke tempat Ify?”

“Gak,”

“Jadi?”

“Lo tau dimana gue bisa menenagkan perasaan gue?”

“Sekarang?”

“Ia. Gue udah beli tiket kok”

“Prepared banget lo”

“Ini bukan gara gara Ify aja Cakk, coba lo liat tanggalan hari ini”

“Oh iya, gue lupa. Besok ini harinya Iel khan?”

“Yup…”

“Lo memang gak pernah lupa ya yo..”Rio tersenyum tipis

“Ga akan pernah”

“Tapi jangan lupa sama ini, kalo gak nanti lo ga di terima di sana”Kata Cakka sambil melempar sebuah gelang berwarna biru.

“Iya”Rio tersenyum memandang gelang itu.

“Happy birthday ya yo”Kata Iel

“Thx”

“Eh iya nih, gue punya sesuatu buat lo”Iel memberikan sebuah kotak. Rio membuka kotak itu.

“Gelang?”

“Yup. Gelang itu sama seperti gelang milik seseorang yang paling gue sayang di dunia ini. Dan gue bakal memberikan yang satunya ke elo.”Rio memandanggelang itu lalu tersenyum tipis.

“Udah, jangan di pandangin mulu. Di pake gih”Kata Iel. Rio memmakainya.

‘Gue harap…’Batin iel sambil tersenyum masam kea rah Rio yang sedang memakai gelang itu.


“Cakk, jujur gue masih penasaran siapa yang memegang gelang satunya”

“Siapa tau lo bisa nemuin ‘Dia’ kalo lo kesana nanti”Kata Cakka.

“Yaudah, lo jagain kamar gue ya”

“Emm,, tenang nanti obrak abrik kamar lo”

“Eh, kalo misalnya gue pulang kamar gue kayak kapal pecah, lo bakal dapet hadiah ini dari gue”Kata Rio menunjukan bogemnya.

“Hehe..kiding bro”Kata Cakka

***

@Toko bunga

Ify melihat lihat bunga yang di jual di sana lalu memilih salah satu bunga. Bunga yang paling ia dan Stev sukai.

“Permisi”

“Kak Ify?!”Kata seseorang yang sangat familiar dimata Ify.

“Hai Acha”Acha berlari memeluk Ify

“Kakak kenapa baru datang? Acha kan kangen”

“Kak Ify kan harus belajar dulu Cha…”Acha melepaskan pelukannya.

“Pasti kak Ify dating buat kak Stev khan?”

“Kamu tau aja”

“Nih kak, bunga kesukaan kak Stev”Acha memberikan sebuket bunga.

“Sip, nih uangnya cantik”

“Makasih kak,”

‘Aku berkunjung ke sana dulu kali ya…’

^^

“Hai Stev…”Sapa Ify sambil berjongkok di depan sebuah batu nisan.

“Maaf yah aku baru datang, tapi memang aku lagi kangen banget sama kamu”Kata Ify sambil mengelus batu nisan ituu.

“Aku bersihkan dulu ya Stev”Ify mencabut rumput di sekitar situ.

“Nah stev, sekarang aku mau cerita…Aku masih belum bertemu ‘Dia’, maaf ya…”Kata Ify yang memang merasa Stev sedang berada di depannya. Siap mendengarkan semua cerita cerita Ify dengan senyuman yang mengambang di bibirnya.

 tapi aku malah bertemu seseorang yang jahat banget sama aku………….”Cerita Ify panjang lebar.

* * *

#Keesokan harinya.
@Toko bunga

“Permisi”Kata Rio

“Eh, iya”Kata Acha

“Beli bunga yang ini yah…”

‘Loh kok sama kayak…?!?”Batin Acha Kaget+bingung.

“Halow?”Rio melambaikan tangannya di depan wajah Acha.

“Eh, maaf ya”

“Kenapa?”

“Engga, Cuma kaget aja. Bunga yang kakak pilih sama kayak seseorang.”Rio menaikan sebelah alisnya.

‘Apa mungkin orang itu?'Batin Rio.

“Kakak gak papa?”Kata Acha

“Eh, ga papa. Jadi semuanya berapa?”

“Sepuluh kak,”

“Nih uangnya. Thx”Rio langsung pergi.

@Pemakaman

“Makamnya Iel dimana ya?”Kata Rio sambil melihat sekitar.

‘Ini pasti makamnya Iel’Rio menjongkak di sebelah makam itu.

“Selamat Ulang tahun Yel…… Andai aja waktu itu gue ikut lo pergi ke Bandung waktu itu. setidaknya gue bisa temenin lo waktu itu. Sori ya yel”

“Gue juga masih belum bisa nemuin ‘dia’yel. Si pemegang gelang satunya.”

“Eh?”Ada suara orang dari belakang Rio. Rio noleh dia melihat gadis itu.

“Ify?!” “Rio?!” Kata mereka hampir bersamaan. Baru saja Ify mau Lari. Rio berhasil menangkap tangannya.

“Ge…Gelang itu?”Mendadak Ify berhenti. Sangat keget. Ada apa dengan gelang biru yang dipakainya? Lalu Rio menganggkat tangan kanannya,

“Jadi kamu……Stev…Tapi…”

“LEPASIN!!”Ify terus meronta ronta hingga akhirnya ia lepas. Dan berlari dari Rio. Dan berlari dari kenyataan.

“Ify…”Gumam Rio lirih sambil melihat punggung Ify yang semakin menjauh darinya.

^^^

Ify berlari dan duduk di tepi kamarnya. Ia terduduk dengan air mata yang terus mengalir dan membasahi pipinya. Kaget. Itu yang ia rasakan sekarang. Kenapa Stev tidak pernah bilng tentang gelang yang satunya. Stev memang pernah bilang soal gelang itu ada dua, tapi kenapa Stev tidak pernah bilang bahwa pemegang gelng yang satunya adalah Rio? Apakah ini alasan Stev menyuruhku pergi ke Jakarta? Untuk bertemu dengan Rio? Tapi kenapa harus dia? Kenapa Rio? Hanya itu yang ada di fikiran Ify saat ini. Penuh dengan pertanya n tentang gelang itu. gelang biru yang di pakai Ify dan Rio.
Lalu Ify mengambil buku diarynya yang dulu sempat tertinggal di Bandung, Ify menarik buku itu yang ada di atas meja yang tepat berada di sebelah ify dan.
‘Sreet’Sebuah kertas jatuh saat Ify menarik buku itu. Kertas itu terjatuh. Ify mengambilnya. Ternyata sebuah surat yang masih tertutup rapat dan masih lengkap dengan amplopnya. Amplopnya sudah terlihat kusam. Sepertinya sudah lama berada di situ tanpa ada yang membuka.

‘Siapa yang menaruhnya?’Batin Ify.

Lalu ify membuka amplop itu dan membaca isinya. Ify menjatuhkan surat itu. Raut kaget terukr di wajahnya. Air matanya mulai berjatuhan…


To My love Ify…

Ify, apa kamu masih mengingat gelang biru itu? gelang yang pernah aku berikan kepadamu saat kamu berulang tahun? Gelang biru yang hanya aku berikan kepada orang orang yangsangat aku sayangi. Hanya ada dua…Yang satu aku berikan ke kamu, dan yang satunya lagi…… Aku berikan ke seseorang yang juga sangat  aku sayangi.
Dan aku tau, waktu pasti akan memanggilku. Andai aku bisa memilih, aku takkan mau waktu memanggilku. Tapi itu semua pasti terjadi…
Dan bila saatnya tiba, aku hanya ingin kamu bersama dengan dia… Seseorang yang juga sangat sangat aku sayangi. Rio. Aku ingin dia yang menjagamu karna di sana takkan ada lagi aku yang menjagamu. Aku ingin dia yang menemanimu, karna akutakkan ada di sana menemanimu. Aku ingin dia yang membuatmu tersenyum, karna akutakkan ada lagi disana membuatmu tersenyum. Aku ingin dia yang menghapus air matamu, karna aku takkan ada lagi di sana untuk menghapus air matamu. Mungkin ini tidak adil bagi kamu fy…
Tapi semua ini aku lakukan demi kamu. Aku tidak mau melihat kamu sendirian di saat itu. Aku tak mau kehilangan senyuman yang sangat indah itu. Aku tidak mau melihat air mata yang sangat berharga itu mengalir dengan derasnya dan membasahi pipimu. Aku tak mau kamu teerpuruk dalam kesedihan terus menerus karna aku. Aku hanya ingin kamu terus tersenyum, senyum yang indah dan tulus. Tertawa, tawa yang sangat lepas dan tanpa beban. Seperti saat aku ada bersamamu. Walau tidak ada lagi aku di sampingmu.
Tapi ingat fy, aku akan selalu menemanimu. Di hatimu. Dan aku takkan pernah pergi dari hatimu. Jangan nangis ya fy,, aku ga mau liat orang yang sangat aku sayangi nangis karna aku, kamu ga boleh lupa…

you’re priceless to me..before..and forever

With love,,

Stev

***

Rio berjalan lontang lantung. Tanpa arah. Lalu langkahnya berhenti di sebuah kursi taman. Rio duduk sambil menutup kedua matanya.

‘Apa yang musti gue lakuin sekarang yel?’Batin Rio.

‘Terus beruang! Jangan menyerah! Lo cinta ka sama dia? kalo gitu buktiin kalo lo cinta sama dia! Buktiin kalo lo emang pantes buat Ify! Jangan menyerah yoo!’suara itu muncul di pikiran Rio. Suara yang selalu ia rindukan. Suara itu. Iel.

‘Semua masalah itu psti ada jalan keluarnya yo. Lo harus yakin akan itu’Lnjut suara itu. ‘Tapi apa jalan keluarnya?’Batin Rio.

“Rio…?”Panggil seseorang.

“Lo?! Udah puas lo sekarang?!”Rio berdiri dan membentak orang itu.

“Gue minta maaf yo, sekarang gue mau jelasin semuanya ke elo…”Kata orang itu dengan ragu ragu.

“Sebenarnya…”

***

Ify memandang kosong ke depan. Air matanya sudah kering. Matanya merah dan sembab. Seluruh pikiraannya tertuju pada Stev dan……Rio.

‘drtt…drtt…’Hp Ify bergetar. ‘085247****** calling’ Lalu Ify mengangkatnya.


“Halo?Ify?”Panggil seseorang di sebrang sana.

“i..iya?”

“Ini Dea fy”

“Dari mana kamu dapet nomorku?”

“Dari mana itu gak penting fy, sekarang gue mau kita ketemu. Di Taman deket pemakaman jam 1”Kata Dea

“Untuk?”

“Lo akan tau nanti, gue mohon lo dateng. Gue akan terus di hantui rasa bersalah kalo o ga dateng.”

“Baiklah”

“Thx Fy,”Lalu Dea menutup telfonnya.

‘Ada apa?Apa ini hal yang sangat penting hingga Dea memohon padaku untuk pergi? Atau ia ingin membuat aku sakit lagi seperti saat di sekolah. Saat ia memeluk……Rio? Entahlah, tapi aku akan tetap pergi. Bagaimanapun juga aku sudah berkata kalau aku akan datang.’Batin Ify

@Taman.
#Jam 1

Ify sampai ke taman yang sudah di janjikan dan mencari Dea. Pandangannya tertuju pada kursi taman. Seorang gadis memakai celana jins, kaus, dan jaket putih duduk di situ sambil menyinggungkan senyumannya ke Ify, benar itu Dea. Lalu Ify berjalan kea rah kursi taman dan duduk di sebelah Dea.

“Hey Fy”Sapa Dea dengan senyumannya.

“Apa yang mau kamu omongin De?”Dea tersenyum masam memdengar pertanyaan Ify yang secara langsung menyuruhnya untu ‘to the poin’.

“Gue mau kasitau lo yang sebenernya Fy……”Kata Dea terputus

‘Sebenernya?’Batin Ify. “Tentang?”Tanya Ify.

“Kejadian waktu itu. Waktu di belakang sekolah. Saat gue meluk Rio…”Kata Dea terputus lagi dan terdengar ragu ragu.

‘Ada apa?’Batin Ify

“Sebenernya gue di suruh sama Shilla sama Alvin buat hubungn lo sama Rio hancur. Gue yang manggil Rio ke bbelakng sekolah. Setelah dia datang, gue langsung peluk dia. dia terus meronta ronta untuk melepaskan pelukan gue, tapi gue terus memeluknya dengan erat dan hingga lo datang dan melihatnya, lalu salah paham atas segalanya. Itulah rencana mereka, dan dengan bodohnya aku melakukan itu semua…”Kata Dea lirih sambil menunduk. Matanya mulai berkaca kaca. Ia tak berani menatap mata Ify yang sayu.

“Jadi Rio……”Ify tak sanggup melanjutkan kata katanya. Dea menggigit bawah bibirnya. Siap untuk menerima amarah dari Ify.

“Sory Fy, gue gak maksud…gue memang bodoh banget karna gue udah ngelakuin itu semua. Lo boleh marah mukul dan numpahin semua amarah lo ke gue sekarang…Karna……”Ify langsung memeluk Dea. Dea diam. Tak mampu lagi melanjutkan kata katanya. Kenapa ify tak marah padanya? Malah Ify melakukan sebaliknya,, Ify memeluknya setelah yang telah ia lakukan pada Ify?

“Aku udah maafin kamu kok De. Karna kamu itu adalah salah satu sahabatku”Kata Ify. Dea meneteskan air matanya. Ia tak menyangka setelah yang ia lakukan Ify masih mengaggapnya sebagai sahabat. Lalu dea membalas pelukan Ify erat dan menumpahkan semua rasa bersalahnya. Air matanya terus mengalir dan kata “Maaf” terus berulang ulang keluar dari mulutnya. Kenapa ia menyakiti seseorang sebaik Ify? Seseorang yang bisa menerimanya sebagai sahabat walau ia sudah menyakitinya…Dea melepaskan pelukannya dan mengelap air matanya.

“Thax Fy, dan gue mau bilang sesuatu lagi sama lo…”Kata Dea. Ify menaikan seelah alisnya.

“Ri…Rio bakalan berangkat jam dua tepat dengan kereta. Dan itu berarti sekitar dua puluh menit dari sekarang.”Mata Ify melebar mendengar ucapan Dea.

“Lebih baik lo pergi sekarang. Tempatnya sekitar 5 blok dari sini”Ify tersenyum.

“Thx De”Ify langsung berlari ke Stasiun itu.

“Gue yakin kalo keputusan gue kali  ini tepat”gumam Dea sambil melihat Ify yang sudah menjauh darinya.

***

Ify terus berlari ke stasiun kereta api itu.

‘BRUKK!’Kaki Ify tersandung batu hingga jatuh. Darah menglir dari lututnya.

“Argh…”Rintih Ify kesakitan. ‘Apa mungkin? Apa mungkin aku bisa sampai tepat waktu?’Batin Ify sambil berusaha duduk.

‘Kamu pasti bisa Fy. Aku yakin kamu bisa’Terdengar sebuah suara yang menggema di telinga Ify.

“Stev?”Gumam Ify

‘Kamu pasti bisa Fy. Aku yakin kamu bisa. Kamu juga harus yakin kalau kamu bisa’Kata suara itu lagi.

“Aku harus bisa! Aku harus bisa!”Ify berdiri lalu berjalan.

Walau terus merasakan sakit karna kakinya, Ify terus melanjutkan jalannya. Rintikan hujan mulai turun, tapi Ify terus berjalan. Rintikan hujan itu berubah menjadi hujan yang sangat deras. Air hujan itu semakin membuat kaki Ify sakit. Kepala Ify pusing. Pandangan ify mulai kabur. Ia mulai menyerah. Dalam keadaannya sekarang tak mungkin Ify bisa pergi ke stasiun itu…Itu mustahil!! Air mata Ify turun bersama hujan. Kaki Ify sudah lemas. Tak sanggup lagi berlari. Langkahnya semakin tak seimbang,dan..

“Kamu gak boleh nyerah Fy…”Kata stev lirih. Kini stev hadir di depan Ify, memegang tangannya dan menahan Ify yang hampir terjatuh.

“Stev? ini bener kamu?”Gumam Ify sambil menyentuh pipi Stev. Stev tersenyum.

“Iya, ini aku Fy.”

“Kamu jangan pergi lagi. Aku gamau kamu tinggal sendiri…Aku gamau.”Kata Ify. Stev tersenyum masam

“Sory Fy, tapi aku memang harus pergi…aku Cuma mau bilang sama kamu, kamu pasti bisa. Ga ada yang gak mungkin di dunia ini Fy…Lo pasti bisa. Lo harus yakin itu”Kata stev yang perlahan menghilang dengan senyumanya. Ify kembali berlari dan berlari menuju ke stasiun itu.

Hingga akhirnya Ify sampai ke stasiun itu. ia tersenyum tipis. Stev benar. Ia memang bisa.

“Rioooo!!!”

“Riooooo!!! Kamu di mana!!”Walau Ify terus berteriak, tapi tetap tak ada tanda tanda kehadiran Rio. Apa mungkin ify sudah terlambat? Lalu Ify melihat kearah jam yang berada di dekat penjualan tiket. ‘jam dua lewat lima belas. Ternyata aku memang ga bisa sampai tepat waktu’Batin Ify.

“Rio. Maafin aku. Aku memang salah. Aku salah paham atas segalanya. Maafin aku yooo…”gumam Ify lirih.

“Aku maafin”Ify menoleh kea rah belakangnya. Seseorang dengan tubuh tegap yang lebih tinggi dari Ify menyunggingkan senyumannya.

“RIO!”Ify langsung memeluk Rio. Dan menagis di dalamnya.

“Rio akuu…”Ucap Ify terpotong

“Aku sudah tau semuanya. Dea sudah memberi tau aku…”

“Tapi bukannya jam dua…”

“Tadi aku terlambat datang, dan ternyata benar…kamu ada di sini.”Ify melepaskan pelukannya.

“Fy, Would you be Mario love?”

“Aku ga mau terima…”Kata Ify sambil menggeleng mantab. Mata Rio melebar.

“Karna…aku mau…… Love si ‘Cupu’!!!”Kata Ify memasangkan kaca mata pad rio dan tersenyum jail. Rio tersenyum mendengarnya.

“Thx fy…”

Seseorang tersenyum menantap mereka.

“Gue harap lo bisa bahagia sekarang fy, walau bukan dengan gue…”Gumam orang itu lalu pergi…

.:THE END:.